Beranda Santri Khodijah atau Aisyah? (Part 7)

Khodijah atau Aisyah? (Part 7)

368
0

 “”

…….

Khadijah dan Aisyah sebenarnya sudah lama saling kenal bahkan dekat. Bukan hanya di kampus, tetapi luar kampus. Mereka bersahabat sejak Aisyah SMP karena kebetulan Khodijah merupakan guru privat Aisyah waktu itu. Dan bukan hanya dengan Aisyah, tetapi dengan kedua orangtua Aisyah pun Khadijah dekat. Maka tidak heran bila kedua orangtua Aisyah menaruh kecewa berat kepada Khadijah saat Arsil menyatakan hal itu untuk Khadijah saat wisuda. Sehingga hubungan Khadijah dengan kedua orangtua Aisyah cukup retak. Namun, Aisyah tidak sama sekali menaruh dendam atau apapun. Hanya cemburu berat yang ia tutupi serapat mungkin. Dan Aisyah pun meminta kepada orangtuanya agar tidak menuduh Khadijah macam-macam lagi.

Namun, dibalik keikhlasannya, batin Aisyah mengalami kekacauan. Belajar tidak fokus dan kesehatannya semakin turun setiap hari hingga jatuh sakit dan dirawat ke rumah sakit. Khadijah yang mendengar informasi itu terkejut. Ia takut Aisyah kenapa-napa. Ia pun segera meluncur ke rumah sakit untuk menjenguk Aisyah. Tetapi kehadirannya disambut kurang baik oleh kedua orangtua Aisyah.

“Untuk apa anda datang kemari? Ingin menertawakan anak saya? Puas anda sudah membuatnya menjadi seperti ini?!” ucap Ayah Aisyah dengan nada yang cukup tinggi

Khadijah tertunduk dan berkaca-kaca

“Lebih baik anda pulang saja, saya takut nanti anak saya sadar lalu melihat anda dan kondisinya semakin memburuk.” Sambung Ibu Aisyah

“Baik. Mohon maaf atas ketidaknyamannya. Saya permisi pulang, wassalamu’alaikum.” Ucap Khadijah yang tidak dihiraukan oleh kedua orangtua Aisyah

Air mata pun berjatuhan di setiap langkah Khadijah. Tiba-tiba tak sengaja berpapasan dengan Arsil.

“Ibu kenapa?” tanya Arsil sangat cemas

“Tidak,” jawab Khadijah singkat dan segera berlalu

Khadijah pun segera melangkah menuju makam suaminya. Di sana ia menangis tersedu-sedu.

“Kak, apakah kamu tidak rela aku menikah dengan lelaki lain? Sehingga kudapati ujian ini… Sungguh aku tidak berniat menggantikanmu, namun aku merasakan kehadiranmu dalam diri Arsil.”

Tanpa sadar, dari kejauhan Arsil yang memang mengikuti Khadijah mendengar itu. Hatinya seolah teriris dan bola matanya berkaca-kaca. Ia melangkah pulang dengan tubuh yang melemas. Hingga hampir tertabrak mobil, namun ia tidak peduli. Ia menuju mushola dekat rumahnya, kemudian mengambil air wudhu yang dilanjut dengan shalat mutlak. Usai itu ia berdo’a, “Ya Robb jika Bu Khadijah benar-benar tidak tidak tulus mengapa saat itu Engkau takdirkan beliau untuk menerima lamaran hamba? Sungguh hamba bingung kini harus bagaimana, mohon beri petunjuk…”

***

 

Beberapa hari kemudian, Khadijah mendapat pesan dari Arsil yang isinya…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khadijah tak tahu harus menjawab apa, karena apa yang dikatakan Arsil benar tetapi ia pun benar-benar mengharapkan pernikahan itu. Di sisi lain ia juga merasa bersalah kepada Aisyah. Akhirnya ia memilih keputusan untuk ditunda beberapa bulan sampai kondisi Aisyah pulih. Dan meminta Arsil untuk menemani Aisyah di rumah sakit, terpaksa Arsil memenuhi  permintaannya itu.

***

Dua bulan telah berlalu, kondisi Aisyah telah pulih. Dan saat Aisyah membuka matanya, nama pertama yang ia sebut adalah nama Arsil. Betapa bahagianya ia karena Arsil berada di sampingnya.

“Kamu benar Kak Arsil?” tanya Aisyah masih cukup lemas

“Ya. Kamu cepet sembuh ya.” Kata Arsil sedikit melempar senyum

“Bu Khodijah mana, kak? Sudah izin belum Kakak ke sini?”

“Sudah. Sekarang jangan mikirin macem-macem dulu, ya.”

“Baik, Kak.”

 

Sepulang dari rumah sakit, Arsil diminta kedua orangtua Aisyah untuk merawat Aisyah. Dengan berat hati ia memenuhi permintaan itu demi Aisyah segera sembuh agar Khadijah kembali membahas pernikahannya. Namun hal itu malah membuat Arsil sedikit menanam rasa. Sesegera mungkin ia tepis, ia ingin setia dengan satu wanita yang selama ini ia perjuangkan cukup lama, yakni Khadijah.

Dua minggu kemudian, kondisi Aisyah sudah pulih total. Arsil beranikan diri untuk mengobrol kepada Aisyah mengenai Khadijah.

“Sah, saya mau mengatakan sesuatu, boleh? Tapi saya mohon kamu jangan marah dan jangan sakit lagi…” ucap Arsil sedikit berkaca-kaca

“Silakan, Kak. Insyaallah tidak. Soal Bu Khadijah ya?”

“Iya.”

Aisyah tersenyum dan menarik nafas dalam.

“Sebenarnya Bu Khadijah yang meminta saya untuk menemani dan merawatmu. Beliau sangat megkhawatirkanmu dan menyayangimu. Ia tunda pernikahan kami sampai kamu benar-benar pulih dan memaafkannya serta mengikhlaskannya. Beliau juga sempat bilang kalau kamu tidak menginginkan pernikahan kami maka akan dibatalkan.”

“Astagfirullah… jangan, Kak. Kalian harus menikah.”

Aisyah segera menghubungi Khadijah melalui ponselnya.

“Halo, Assalamu’alaikum, Bu…”

“Wa’alaikumussalam, Syah. Bagaimana kondisimu saat ini?”

“Alhamdulillah sudah sembuh total, Bu.”

“Alhamdulillah…”

“Bu, Aisyah mau minta sesuatu tapi ibu wajib memenuhinya.”

“Hmmm insyaallah. Apa itu?”

“Tolong segera menikah dengan Kak Arsil. Aisyah mohon…”

“Apakah hatimu akan baik-baik saja, Syah?”

“Sangat baik, bu. Justru kondisi Aisyah akan kembali memburuk kalau ibu menolak permintaan Aisyah…”

“Tapi….”

“Aisyah mohon bu…”

“Hmmm, bismillah. Baik kalau itu permintaanmu.”

 

 

***

 

 

 

Bersambung……..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here