Beranda Santri Kesan Dan Pesan Syifa Luthfia Saat Tour Ke Jogja (part I)

Kesan Dan Pesan Syifa Luthfia Saat Tour Ke Jogja (part I)

671
0

Assalamu’alaikum, perkenalkan namaku Syifa Luthfia yang akrab disapa “Syilut” oleh teman-teman di Pondok Pesantren Al-Baqiyatussholihat. Pada tanggal 29 Mei 2023 lalu, aku dan teman-teman seangkatanku ABADANU berangkat tour ke Jogjakarta. Di sana tentunya terdapat banyak kesan yang dilalui.

Menurutku, perjalanan ke sana begitu seru dan menyenangkan karena mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi. Tentunya tempat-tempat itu memberikan banyak pengetahuan/sejarah sehingga aku bisa benar-benar bertadabur alam.

Tempat pertama yang aku kunjungi adalah Cirebon, yakni berziarah ke makam Sunan Gunung  Jati. Di sana banyak orang yang meminta untuk shodakoh di setiap tangga menuju makam tersembut. Belum lagi tangganya begitu tinggi dan kalau dihitung cukup banyak. Sehingga akupun cukup lelah menaikinya.

Usai dari tempat itu, aku bersama rombongan menuju Hotel di Jogja, tepatnya Hotel Nurgara. Hotel tersebut memberikan kenyamanan bagi para pengunjung. Terdapat banyak fasilitas yang memadai seperti AC, kipas angin, TV, Wifi, kamar yang nyaman, pemandangan yang indah, dll.

Esok paginya kami menuju pantai Karangkritis. Tempat yang begitu memanjakan penglihatan. Terasa cukup panas, namun disejukan oleh angin yang berhembus dari arah laut. Desiran ombaknya pun kencang memberi kesan kesempurnaan pada pantai. Aku dan beberapa teman cukup memandangi pemandangan indah tersebut, namun sebagian besar di antara yang lain mereka tengah asyik bermain-main. Ada yang selfie, main motor, jalan-jalan, makan-makan, dll.

Setelah tepat pukul 14:00 kita sampai di Tebing Bereksi. Tebing tersebut indah menjulang cukup tinggi dengan dekorasi patung naga yang besar. Barulah setelah menikmatinya kami meluncur ke tempat oleh-oleh khas Jogja, yakni Bakpia. Kemudian kami beristirahat beberapa jam di hotel, setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Malioboro.

Di Malioboro aku temui ada penyayi jalanan yang menghibur para pengunjung dan mereka bernyanyi di jalan setapak. Akupun bersama temanku yang bernama Mutiara bermain motor listrik di sana. Harganya cukup untuk kantong pelajar, yang penting kami heppy. Lalu aku jajan Ice Cream Mixue bersama Ade Husian, anak dari Bapak Kepala Sekolah SMPIT KHR Ma’mun Nawawi dan teman-teman yang lain.

Di esok harinya kami melanjutkan perjalanan menuju Candi Perambanan. Di sana cuacanya begitu panas. Dan banyak Bule yang kebetulan berkunjung sehingga aku dan temanku yang bernama Umi Maulidia foto bersama Bule tersebut. Setelah itu aku bermain panah dengan harga Rp.20.000; Di sana pun aku temui patung-patung yang sangat banyak dan terkesan klasik namun bersejarah tentunya. Aku cukup terkejut saat menyaksikan ada candi yang hancur akibat gempa.

Pesan tersirat yang aku rasakan adalah : Mengukir kenangan yang tidak akan terlupakan

Pesan dariku : Sungguh apa yang Allah ciptakan, tidaklah ada yang sia-sia. Bahkan segalanya dapat menjelma sebagai pelajaran. Maka, sungguh tak pantas bila diri kita enggan bersyukur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here