Bismillah, tsuma sholatu wa sallamu ‘alaa rasulillahi SAW.
Alhamdulillah, puji syukur tiada tepi kepada Allah SWT yang telah memberi ni’mat agung berupa dimasukkannya kita ke dalam zona keberuntungan lagi keselamatan, yakni “Dinul islam”. Sehingga kita dapat menyicipi kelezatan ibadah kepada-Nya, namun pernahkah kita bertafakkur seberapa ma’rifatnya kepada Sang Pelimpah Ni’mat? Benarkah keislaman kita nyata dan terpatri dalam lubab atau hanya sekedar di lisan bahkan di KTP saja?
Kita memang bukan waliyullah, nabi apa lagi malaikat, tapi setidaknya sedikit demi sedikit, seinci demi seinci harus bertatih atau merangkak untuk menuju muslim yang sesungguhnya, umat yang diakui Rasulullah SAW dan hamba yang diakui Allah SWT.
Saya dan anda, mungkin ibadahnya masih banyak yang perlu diremedial. Tak mengapa, asal jangan sampai alpha dari catatan absensi malaikat (lupa kewajiban).
Allah dengan segala kemurahan-Nya tak secuilpun ada rasa bosan menunggu taubat kita hingga ibadah kita dinyatakan bernilai dan lulus. Namun, walau demikian kita jangan santai bagai berjemur di pantai. Ingat, waktu tiada sudi mengikuti kemauan kita, seandainya kita menjerit sambil menangis darah untuk meminta ia memperlambat lajunya, sungguh tak akan mempedulikan kita jadi, bila ajal sudah tiba, mustahil ia memundurkan geraknya.
Lantas, bagaimana jalan pintas untuk menyentuh rahmat-Nya? Yakni dekati para ‘alim ulama dan ahli amal shalih yang telah jauh maqam ma’rifatnya kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S At-Taubah : 102 yang berbunyi
“Dan adapula orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka menyampurbaurkan amalan yang baik dan amalan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dengan demikian, mari kita mantapkan kembali syahadat, kemudian kita aplikasikan dan realisasikan serta implementasikan dalam kehidupan kita. Mari menelusuri ma’rifatullah agar cinta agung-Nya tak bertepuk sebelah tangan.