Menu

Mode Gelap
Inilah Jadwal Streaming Channel Youtobe Pesantren Al Baqiyatussholihat Puasa 2024 : Almanak Cibogo Tetapkan Selasa Awal Puasa Ngaji Pasaran Bulan Ramadhan di Ponpes Al Baqiyatussholihat Resmi Dibuka Sambut Ramadhan, Pesantren Al Baqiyatussholihat Adakan Pengajian Kilatan (Pasaran) Malam Nisyfu Sya’ban Di Pesantren Al Baqiyatussholihat Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban

Santri · 14 Nov 2022 04:49 · Waktu Baca

Khodijah atau Aisyah? (Part 6)


					Khodijah atau Aisyah? (Part 6) Perbesar

 

“Haru Berselimut Syukur”

…..

Sepulang dari kampus, Khodijah mampir ke makam Raihan. Kerinduannya mulai menggebu kembali. Tak sengaja ia bertemu dengan Arsil di sana. Mereka pun saling bertanya.

“Saya habis berziarah ke makam almarhumah Ibu saya, Bu.” Jawab Arsil “Kalau Ibu?” sambung Arsil bertanya kepada Khodijah

“Saya mau berziarah ke makam almarhum suami saya.” Jawab Khodijah

“Ibu sudah pernah menikah?” tanya Arsil tersentak

“Iya.” Jawab Khodijah singkat

“Boleh saya ikut berziarah?”

“Untuk apa?”

“Silaturahim dan mendo’akan sesame muslim.”

“Hmmm silakan.”

Ketika melihat batu nisan almarhum suami Khodijah, Arsil kembali tersentak. Namanya ‘Dr. Raihan’ persis denan nama dokter yang pernah menolongnya dulu. Namun ia berpikir bahwa nama Raihan di dunia tidak hana satu. Ia pun duduk di dekat makam itu. Jantungnya berdebar sangat kencang dan tiba-tiba menatap Khadijah dengan lekat namun ditepisnya. Ia bingung dengan dirinya sendiri. Khodijah pun merasakan kenyamanan. Seolah-orah Raihan hidup, ia merasakan itu namun ia pun tepis rasa itu karena takut mengundang murka-Nya karena masih belum menerima takdir dengan ikhlas.

Arsil memimpin tahlil. Keduanya meneteskan air mata, usai berdo’a ada seorang lelaki menghampiri lalu berkata, “Sesungguhnya Raihan bersyukur dengan kehadiran kalian. Ia meridhoi kalian. Mohonlah kalian hal terbaik kepada Allah.”

Arsil dan Khodijah tidak mengerti maksud laki-laki itu, ketika hendak bertanya, laki-laki itu berlalu begitu saja dengan cepat.

…..

 

Sementara itu, Aisyah yang tengah berbincang-bincang hangat dengan kedua orangtuanya…

“Nak, kamu kan sudah pertengahan semester… kira-kira sudah bertemu laki-laki yang pas belum untuk dijadikan suami nanti?” tanya sang bunda

“Kan baru pertengahan, nanti saja kalau mendekati akhir, Umi…” sahut Aisyah santun dan malu-malu

“Kalau mendekati wisuda kan masih lama, dan takutnya belum ada sampai lulus. Kan kalau dari sekarang ada pegangan… betul kan, Abi?”

“Betul, Mi…” dukung sang ayah “Kamu ini dari dulu memang susah suka ke laki-laki, sampai bosan Abi dapat laporan kamu menolak laki-laki, Nak… mau sampai kapan kamu menutup hati? Usiamu sudah mendekati 19, lho… nanti lulus 22 tahun.” lanjut sang ayah

Aisyah menahan senyum.

“Sebenarnya Aisyah sudah ada rasa kagum ke kakak kelas Aisyah, Mi, Bi… dia sangat shalih dan cerdas. Tapi hal itu membuat Aisyah merasa tidak pantas…” tutur Aisyah jujur

“Lho tidak pantas bagaimana? Kamu ini juga cerdas dan sholehah, cantik lagi. Lelaki mana yang mau menolak?” tanya sang ibu

“Tapi dia tidak sama sekali nampak menyukai Aisyah…” ucap Aisyah melemas

“Siapa tahu dia memang pandai menyembunyikan rasa, Nak. Kejar dia dalam do’amu, pintalah kepada yang memiliki hatinya…” ucap sang ayah

“Umi sama Abi setuju Aisyah dengan dia?” tanya Aisyah

“Selagi baik akhirat dan ilmunya, kenapa tidak?” jawab sang ibu dan ayah

“Alhamdulillah, mohon do’anya, Mi, Bi…”

“Pasti, Nak…”

…..

 

(Beberapa bulan kemudian)

 

Khodijah dan Arsil hampir kewalahan membendung rasa saling kagum mereka. Bagaimana tidak, keduanya amat dekat kepada Robb-Nya, selalu beramal shaleh dan mencintai kalam-Nya. Ayat-ayat-Nyalah yang menyambungkan hati mereka. Ketika Arsil memuroja’ah, Khodijah pun mampu melanjutkannya dan begitu sebaliknya. Hingga terbitlah do’a dari hati dan lisan mereka untuk saling meminta kepada Sang Ilahi. Khodijah berani demikian karena atas orongan sahabat dekatnya, Mariyyah. Tatkala ia mencurahkan isi hatinya kepada Mariyyah, Mariyyah menuturkan… “Kesetiaanmu sungguh tidak salah, justru patut ditiru. Namun, kamu masih sangat muda dan harus melaksanakan sunnah Nabi agar dapat membantu kemakmuran islam dengan melahirkan bibit-bibit unggul dari benihmu. Maka, cobalah sedikit membuka hatimu. Insyaallah Dokter Raihan tidak akan keberatan dan aku yakin, beliau sangat menginginkanmu bahagia.”

 

…..

 

Arsil yang tengah membaca buku bersama Azka di perpustakaan, tiba-tiba melihat Khodijah yang begitu semangat mengajarkan dan berdiskusi dengan mahasiswa semester 4 di tempat yang tak begitu jauh darinya. Tanpa sadar ia melempar senyum kepada Khodijah. Tak sengaja Khodijah melihat itu lalu membalasnya. Namun disaat bersamaan dan kebetulan Aisyah sedang berada di samping Khodijah merasa senyuman Arsil itu untuknya, ia pun ikut membalas senyuman itu dengan girang. Tetapi Arsil sama sekali tidak engeuh.

“Sil, lo senyumin siapa? Aisyah?” tanya Azka

“Enggak,” jawab Arsil spontan

“Yang bener? Terus ke siapa?” tanya Azka semakin penasaran

“Ke dosen yang sedang membimbing Aisyah dan temen-temennya.” Jawab Arsil jujur

“Hah?! Bu Khodijah?”

“Siapa lagi…?”

“Jangan bilang lo…..”

“Kenapa? Rasulullah dengan Sayyidah Kodijah jauh lebih muda, bukan? Dan Sayyidah Khodijah mulanya pernah menikah…”

“Iya juga sih… tapi kenapa enggak ke Aisyah aja? Lebih cocok padahal, dan kelihatannya dia suka ke elo…”

Arsil menggeleng santun sambil tersenyum. Azka paham maksud sahabatnya itu.

 

…..

Tiba saatnya akhir semester bagi angkatan Arsil. Ketika diumumkan dosen pembimbing, ternyata Arsil bersama 9 teman lainnya kebagian Khodijah sebagai dosen pembimbing skripsi. Arsil pun semakin semangat untuk belajar, namun tetap niatnya Lillah. Sehingga ketika selesai pengajuan judul kemudian dipersilakan untuk menyusun skripsi, dalam waktu satu pecan Arsil dapat menyelesaikannya. Khodijah sangat terkejut.

“Saya tau kamu genius, Sil. Tapi untuk penyelesaian sesingkat itu dengan hasil sebagus ini rasanya begitu menakjubkan. Jangan bilang kamu plagiat…” kata Khodijah tegas

 

“Ya, saya plagiat!” Jawab Arsil yang membuat Khodijah hampir marah. “Plagian ke do’a, keyakinan, otak dan semangat saya.” Sambung Arsil

“Arsil….. jangan main-main kamu…..” ucap Khadijah sedikit menaikkan olume suaranya sambal menghela nafas

“Ibu tidak percaya dengan semangat saya?” tanya Arsil sambil menundukkan pandangan

“Percaya, namun sulit!” jawab Khodijah

“Sungguh kekuatan Allah-lah yang membantu saya dengan wasilah semangat saya karena ibu.”

“Almarhumah ibumu?”

“Ibu… dosen,”

“Maksud kamu?”

“Nanti akan saya jelaskan ketika wisuda nanti. Assalamu’alaikum.”

“Arsil… hmmm… wa’alaikumussalam.”

…..

(Tiba di rumah)

Arsil segera menemui ayahnya dan mengajak berbincang-bincang serius empat mata.

 

“Ada apa sih kamu ini, lebay amat… ngomong ya tinggal ngomong…” ucap bapak Arsil

“Tapi Arsil dek-dekan, bapak…!”

“Ya kalau gak dek-dekan bukan makhluk hidup namanya, tapi tumbuhan…”

“Ah, bapak becanda mulu orang anaknya serius juga…”

“Hehehe sok atuh silakan sampaikan apa maksudmu…”

“Bentar-bentar Arsil atur nafas dulu pak.”

“Emang selama ini nafasmu gak bisa diatur?”

“Iiih bapak… gak gitu…” “Jadi gini pak….”

Arsil tidak kuat melihat kondisi wajah bapaknya yang sangat serius itu. Ia pun tertawa sangat geli.

“Giliran orag tua serius malah diketawain ya?!”

“Hehehe maaf pak, abis bapak lucu sih…”

“Baru nyadar kau kalau bapakmu ini selain ganteng, lucu…”

“Pak… Arsil mau lamar wanita nanti wisuda…”

Bapak Arsil tertawa lepas.

“Lho kok bapak malah balik ketawain Arsil? Emang ada yang lucu?”

“Enggak, bapak kaget aja ternyata anak bapak normal juga ya, hehehe…”

“Astagfirullah……”

“Kan kamu dari orok dingin ke perempuan, cuma ke ibumu aja yang enggak…”

“Hehehe jadi aneh gitu ya pak?”

“Oh jelas sekali…”

“Terus gimana?”

“Gimana apanya?”

“Boleh gak?”

“Ya atuh bolehlah asal akhlaknya baik… tapi emang kamu ada rezeki buat mahar dan kedepannya?”

“Insyaallah ada, pa. arsil ada tabungan yang cukup dari hasil lomba-lomba. Mohon do’anya, agar direstui Allah.”

“Aamiin, Nak…”

Arsil pun memeluk bapaknya dengan hangat.

…..

 

Tak terasa, detik-detik wisuda akan diadakan esok siang. Arsil menyiapkan kejutan untuk Khodijah yang sudah ia rencanakan bersama bapaknya. Begitupun dengan Khodijah yang berniat memberi kado kepada Arsil berupa kotak berisi kitab tafsir qur’an dan esiklopedia islam terlengkap. Tidak kalah dengan Aisyah bersama kedua orangtuanya yang turut sibuk menyiapkan hadiah untuk Arsil berupa buket keren berisi kitab hadits Kutubussitah dan jam tangan mahal kisaran harga 10 juta lebih.

 

Esok hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Arsil dan Khodijah sedikit terkejut dengan kehadiran Aisyah bersama kedua orangtuanya, namun mereka positif thinking siapa tahu ada saudara atau temannya yang akan wisuda pula.

Tiba-tiba ayah Aisyah memberikan hadiah itu pada Arsil.

“Ini, nak Arsil tolong diterima ya.” Ucap ayah Aisyah tiba-tiba

“Untuk siapa ya, pak?” tanya Arsil bingung

“Ya untuk kamulah…” jawab ibunda Aisyah

“Kirain saya untuk yang lain tapi nitip ke saya…” kata Arsil

“Enggak, itu untuk kamu, tolong diterima.” Sahut kembali ayah Aisyah

“Mmmm baik, pak. Terimakasih banyak.” Ucap Arsil sedikit terpaksa

“Ucapkan terimakasih juga ke Aisyah anak kami.” Kata ibunda Aisyah

“Mmmm terimakasih, Aisyah.” Ucap Arsil semakin terpaksa

Melihat itu Khodijah sedikit tergores hatinya. Ia pun hampir mengurungkan niatnya untuk memberikan kado kepada Arsil. Ia mencoba menjauh dari mereka, tetapi tiba-tiba dipangil ibunya Aisyah, “Bu Dosen Khodijah, boleh  kami minta tolong?”

“Tentu, silakan bu. Apa itu?” jawab Khodijah lembut

“Tolong fotokan kami berempat ya… mohon maaf…”

Khodijah dan Arsil tersentak

“Oh baik, sini…” ucap Khodijah sambil menahan pedih

 

Usai itu, Arsil memanggil Aisyah. “Syah, boleh saya juga ikut minta tolong?”

“Boleh banget kak, apa itu” jawab Aisyah sangat girang

“Tolong fotokan saya dengan bu Khodijah, boleh?”

Aisyah dan Khodijah tersentak begitupun kedua orangtua Aisyah, namun karena Khodijah adalah dosen, mereka tidak bisa apa-apa.

“Si…siap, Kak Arsil!” jawab Aisyah pura-pura biasa saja

“Yuk, bu…” ajak Arsil kepada Khodijah

Dengan terpaksi tapi senang, Khodijah mau.

…..

Tiba saatnya pengumuman mahasiswa berprestasi. Dan sesuai dugaan, ternyata Arsil menjadi mahasiswa terbaik pertama dan dinyatakan coumload! Semuanya bersorak. Ayah Arsil, Khodijah dan Aisyah terharu. Arsil dipanggil untuk memberikan sambutan, sebelum itu ia sujud syukur. Lalu bersambutan, “….. Sungguh saya sangat bersyukur kepada Allah SWT sang pemilik Kun Fayakun. Saya yang berlatar belakarang dari keluarga yang sangat sederhana, Ayah seorang penjuaal ketoprak dan saya sendiri penjual bensin eceran yang nekad ingin kuliah diberi rizki hingga sejauh ini yang menurut logika manusia adalah mustahil. Tapi tiada kata tidak mungkin bila Allah telah berkehendak dan hambanya tiada henti berdo’a, ikhtiar, tawakal serta yakin kepada-Nya tanpa ragu secuil pun. Saya persembahkan prestasi ini untuk empat orang special dalam hidup saya, yang membuat saya hingga segigih dan secinta serta sesemangat ini dalam tholabul’ilmi, yaitu : Almarhumah Ibunda tercinta, Ayah saya tercinta, Dokter Raihan termulia dan terakhir wanita pertama yang saya cintai selain ibu saya yakni dosen pembimbing saya sendiri, ibu Khodijah.”

Seketika suasana dan rasa menjadi berkecambuk haru, kagum, termotivasi dan kaget. Aisyah dan orangtuanya yang berharap besar nama Aisyah yang disebut menjadi kecewa dan terjun air mata dari bola mata indah Aisyah. Khodijah yang tersentak mendengar nama ‘Dokter Raihan’ namun sangat bahagia tatkala namanya disebut sebagai wanita yang Arsil cintai. Ayah Arsil dan seluruh yang hadir sangat terkejut karena perempuan yang dicintai Arsil adalah gurunya sendiri.

Arsil melanjutkan perkataannya, “Di momentum berbahagia ini, izinkan saya untuk menyempurnakan kebahagiaan saya. Khodijah, saya memang orang miskin dan terbilang masih bocah bagimu. Namun dan tentu kau pun tahu riwayat usia Bagina Nabi SAW dengan Sayyidah Khodijah. Sungguh Khodijah, saya tidak main-main, engkau telah saya istikhorohkan berkali-kali dan jawaban Allah positif. Kini saya, di depan seluruh yang hadir menyaksikan. Tolong jawab tulus dari lubabmu. Maukah engkau saya halalkan untuk menjadi Sayyidah Khodijahnya seorang Ahmad Arsil Habibi?”

Semua mata pun dengan lampu sorot tertuju pada Khodijah. Dengan penuh haru dan syukur, Khadijah tersenyum lalu menjawab, “Bismillah, saya bersedia.” Kemudian Khodijah berdiri dan menghampiri Ayah Arsil lalu berkata, “Kado ini sudah saya sediakan sedari kemarin untukmu, Arsil. Nyaris tak jadi saya berikan karena suatu faktor, namun nyatanya Allah meminta saya untuk tetap memberikannya. Saya titipkan kado kebanggaan saya atas prestasi anak bapak kepada bapak untuk anak bapak, Arsil yang insyaallah akan menjadi Muhammadnya saya.”

Semua orang bersorak-bertepuk tangan sangat meriah dan suasana penuh haru.

 

 

 

Bersambung…..

 

Facebook Comments Box

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Writer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Penutupan Kajian Ramadhan dan Perpulangan Santri Al-Baqiyatussholihat

1 April 2024 - 15:24

Ngaji Pasaran Bulan Ramadhan di Ponpes Al Baqiyatussholihat Resmi Dibuka

1 Maret 2024 - 10:38

Pesantren Al-baqiyatussholihat Melaksanakan Upacara Hari Santri Nasional 2023

23 Oktober 2023 - 10:51

Agenda Santri Al-Baqiyatussholihat Di Setiap Jum’at

22 September 2023 - 13:44

Kegiatan dan Perlombaan 17 Agustus Di Pondok Pesantren Al-Baqiyatussholihat

25 Agustus 2023 - 12:54

Trending di Berita